Pengkhianatan Menteri Muayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad Al- Alqami Asy-Syi'i dengan Masuknya Orang-orang Tatar ke Baghdad


Ibnu Katsir menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi pada tahun 642 H:
"Pada tahun itu Al-Musta'shim Billah mengangkat Muayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad Al-Alqami sebagai menterinya, yang justru kemudian mendatangkan keburukan bagi dirinya sendiri dan bagi penduduk kota Baghdad, yang akhirnya menyebabkan Al-Musta'shim tidak dapat menyelamatkan kementeriannya.

Dia bukanlah menteri yang dapat dipercaya, dan kinerjanya pun tidaklah dapat diharapkan. Dialah yang telah membantu kehancuran atas kaum muslimin dalam persoalan Hulaku Khan (pemimpin Tatar). Semoga Allah menjelekannya dan juga mereka.

Ibnu Katsir juga menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 656 H. Dimana pada tahun ini, pasukan Tatar dalam jumlah yang cukup besar datang ke Baghdad, pusat Daulah Abbasiyah pada saat itu:
"Tahun itu baru saja dimulai, sementara pasukan Tatar sudah berada di Baghdad dengan dikawal oleh dua orang pemimpin yang berada di bagian depan prajurit-prajurit penguasa Tatar Hulaku Khan. Bantuan juga datang kepada mereka dari penguasa Al-Maushil untuk membantu mereka melawan orang-orang Baghdad, Miratah, Hadayah, dan Tuhafah.. Pemberian bantuan itu dilakukan karena mereka takut pada orang-orang Tatar, dan untuk mencari muka dan memberi sanjungan kepada mereka. Semoga Allah menjelekkan mereka semua. Sehingga orang-orang Tatar dapat mengepung pusat khilafah dan menghujaninya dengan anak-anak panah dari segala penjuru.

Hulako Khan datang dengan seluruh pasukan yang dimilikinya. Yang berjumlah kira-kira mencapai dua ratus ribu tentara. Dia dalam keadaan sangat marah pada khalifah. Hal itu terjadi, karena menteri Muayyiduddin Muhammad bin Al-Alqami (pengkhianat) menyarankan kepada khalifah untuk mengirimkan hadiah yang cukup berharga kepada Hulako Khan pada awal kedatangannya dari Hamdan menuju Iraq, sebagai bentuk penghargaan untuknya atas kesediaannya mengunjungi negara mereka.

Khalifah menolak menyerahkan hadiah berharga (dawidarahu) kepadanya. Dan orang-orang mengatakan, bahwa menteri melakukan ini hanya semata-mata untuk mencari muka dan menyanjung raja Tatar karena harta yang telah dikirimkan kepadanya. Mereka menyarankan untuk memberikannya sesuatu yang sederhana saja, kemudian dia mengirimkan hadiah padanya.

Raja Hulako Khan memandang rendah hadiah tersebut, lalu dia mengutus seseorang kepada khalifah untuk meminta dawidarahu (sejenis benda berharga) yang telah disebutkan dan juga Sulaiman Syah. Khalifah tidak mengirimkan keduanya kepadanya dan tidak memperdulikannya. Raja Tatar mempercepat kedatangannya dan sampai di Baghdad dengan pasukannya yang besar, kafir, jahat, zhalim, brutal, dan tidak percaya kepada Allah dan hari akhir.

Mereka mengepung Baghdad dari bagian barat dan timur. Tentara-tentara Baghdad dalam kondisi sangat lemah dan terhinakan, jumlah mereka yang tersisa tidak sampai sepuluh ribu tentara. Mereka semua adalah orang-orang yang telah terlantarkan kebutuhan ekonominya. Sehingga banyak dari mereka yang meminta-minta di pasar-pasar dan di pintu-pintu masjid.

Para penyair membuat puisi-puisi yang menyesali keadaan mereka dan bersedih atas Islam dan pemeluknya. Semua itu bermula dari ide sang menteri Ibnu Al-Alqami Ar-Rafidhi. Itu karena pada tahun sebelumnya terjadi peperangan hebat antara Ahlu sunnah dan Syiah; Al-Kurkh dan wilayah-wilayah Syiah dirampas, sehingga rumah-rumah para kerabat menteri pun ikut dirampas, maka kemarahannya menjadi memuncak.

Inilah yang memotifasinya untuk merencanakan sesuatu yang jahat dan keji kepada Islam dan para pemeluknya. Belum pernah ada dalam sejarah sesuatu yang lebih keji dari itu, semenjak Baghdad dibangun sampai dengan saat ini. Karena itu dialah orang pertama yang datang ke Tatar, yakni Ibnu Al-Alqami. Dia keluar bersama keluarganya, para sahabatnya, para pembantu dan pelayannya. Kemudian Sultan Hulako Khan bertemu dengannya, semoga Allah melaknatnya. Kemudian dia pulang dan menyarankan khalifah pergi dan menghadap kepadanya agar terjadi sebuah kesepakatan yang isinya yaitu; setengah dari pajak Iraq untuk mereka dan sisanya untuk khalifah.

Untuk kepergiannya, khalifah membutuhkan tujuh ratus orang penunggang kuda dari para qadhi, para fuqaha, orang-orang sufi, para pejabat negara dan kepala pemerintahan. Ketika mereka mendekati kediaman Sultan Hulako Khan, mereka melarang rombongan khalifah masuk kecuali hanya tujuh belas orang saja. Khalifah termasuk dari orang-orang yang disebutkan, sementara sebagian yang lain diturunkan dari kendaran-kendaraan mereka, kemudian harta benda mereka dirampas dan ada yang dibunuh. Khalifah dihadirkan di hadapan Hulako, kemudian dia menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya. Diceritakan bahwa, perkataan khalifah membingungkan akibat besarnya penghinaan dan kesombongan.

Kemudian dia dibawa kembali ke Baghdad dengan ditemani oleh Tuan Nashiruddin Ath-Thusi dan menteri Ibnu Al-Alqami serta lainnya. Khalifah dibawah pengepungan dan penawanan mereka. Banyak sekali yang disita oleh mereka dari dar khilafah (pusat khilafah) berupa emas, perhiasan, batu permata, mutiara dan barang-barang berharga lainnya. Orang-orang Syiah dan orang-orang munafik menyarankan kepada Hulako Khan untuk tidak membuat kesepakatan damai dengan khalifah. Menteri berkata, "Kapan pun terjadi kesepakatan untuk membagi dua, tidak akan bertahan kecuali hanya satu atau dua tahun, kemudian persoalannya akan kembali seperti semula." Mereka menganggap lebih baik membunuh khalifah.

Ketika khalifah kembali menghadap Sultan Hulako, dia memerintahkan untuk membunuhnya. Diriwayatkan bahwa yang menyarankan untuk membunuh khalifah adalah menteri Ibnu Al-Alqami dan Tuan Nashiruddin Ath-Thusi. Tuan Nashir ini telah ikut dalam melayaninya ketika dia membuka benteng Al-Mut dan merebutnya dari tangan orang-orang Ismailiyah. Nashir adalah salah seorang menteri Syams Asy-Syumus dan juga sebelumnya, yaitu ayahnya, Alau`ddin bin Jalaluddin. Hulako memilih Nashir untuk membantunya, seperti seorang perdana menteri.

Ketika Hulako datang dan dia masih merasa mengkhawatirkan pembunuhan khalifah, sang menteri menenangkannya dan menganggap ringan hal itu. Kemudian mereka membunuhnya dengan cara menendangnya, sementara dia dimasukkan di dalam karung, agar darahnya tidak menetes ke tanah. Mereka menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang bersamanya seperti; para qadhi, para penguasa, para pemimpin, para pejabat, dan para pembuat undang-undang (Anggota Dewan) di negaranya.

Mereka mendatangi negaranya dan membunuh siapa saja yang dapat mereka bunuh, laki-laki, para wanita, anak-anak, orang-orang tua dan para pemuda. Banyak orang-orang yang melarikan diri dengan masuk ke dalam sumur dan kamar mandi, serta tempat-tempat kotor. Mereka juga bersembunyi selama berhari-hari tidak menampakan diri. Sekelompok orang berkumpul di toko-toko dan mengunci pintunya; lalu orang-orang Tatar membukanya, baik dengan cara dihancurkan atau dibakar, kemudian mereka masuk. Orang-orang pun melarikan diri ke tempat-tempat yang tinggi, tetapi mereka tetap membunuhnya dengan potongan besi, sehingga saluran-saluran air di gang-gang dialiri oleh darah. Begitu juga di masjid-masjid dan tempat-tempat pengungsian.

Tidak ada satu pun dari mereka yang selamat kecuali orang-orang yang meminta jaminan keamanan, yaitu mereka yang dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang yang berlindung pada mereka dan pergi ke rumah menteri Ibnu Al-Alqami Ar-Rafidhi. Sekelompok pedagang meminta jaminan keamanan kepada mereka dengan cara memberi mereka bayaran yang tinggi, supaya mereka dan harta benda mereka selamat.

Baghdad benar-benar menjadi seperti puing-puing yang hancur setelah sebelumnya adalah negeri yang paling indah, tidak ada apa pun di sana, kecuali hanya sedikit orang saja dari mereka yang dalam ketakutan, kelaparan, kehinaan dan kekurangan.

Sebelum peristiwa ini, menteri Ibnu Al-Alqami telah berusaha keras merekayasa para tentara dan banyak menghapus nama mereka dari dewan (sengaj a agar kekuatan semakin berkurang). Sehingga jumlah prajurit di akhir kekuasaan Al-Mustanshir, kurang lebih hanya mencapai seratus ribu orang, sebagian pemimpin dari mereka ada yang seperti raja-raja besar. Dia selalu berusaha untuk mengurangi jumlah mereka sampai mereka hanya tersisa sepuluh ribu saja. Kemudian mengirim surat kepada orang-orang Tatar dan membujuk mereka agar datang ke negerinya serta memudahkan hal itu untuk mereka.

Dia menceritakan situasi dan kondisi yang sebenarnya kepada mereka, dan juga mengungkapan mengenai kelemahan-kelemahan mereka. Semua itu dilakukannya karena ingin melenyapkan Ahlu sunnah, menyebarluaskan bid'ah Syiah dan mengangkat khalifah dari orang-orang Fathimiyah, serta menghabisi para ulama dan mufti (dari Ahlu sunnah). Allah Mahakuasa atas urusannya.

Menteri Ibnu Al-Alqami Ar-Rafidhi si pengkhianat ini sangat membenci ulama-ulama Ahlu sunnah, bahkan kebenciaannya itu hanya dapat disembuhkan dengan membunuh mereka. Salah satu dari mereka yang paling menonjol pada saat itu adalah Syaikh Muhyiddin Yusuf bin Syaikh Abul Faraj bin Al-Jauzi. Beliau dan ketiga anak-anaknya (Abdullah, Abdurrahman dan Abdul Karim) dan para pejabat negara satu persatu diundang untuk datang ke pusat khilafah, kemudian beliau dibawa ke pemakaman Al-Ghilal, lalu disembelih seperti halnya kambing yang sedang disembelih. Dibunuh pula Syaikhnya para Syaikh, penasehat Khalifah Shadruddin Ali bin Nayyar. Para khatib, para imam, dan mereka yang hafal Al-Qur'an juga ikut dibunuh, sehingga menyebabkan masjid-masjid dan shalat berjamaah serta shalat Jumat di Baghdad terhenti selama beberapa bulan.

Menteri Ibnu Al-Alqami -semoga Allah menjelekkan dan melaknatnya- ingin menutup masjid-masjid dan sekolah-sekolah di Baghdad, dan menggantinya dengan masyahid (pusara-pusara) dan perkampungan syiah, serta membangun sekolah yang besar bagi orang-orang Syiah untuk menyebarkan ilmu dan syiar mereka.

Jumlah Korban Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Orang-orang berbeda pendapat mengenai jumlah kaum muslimin yang tewas di Baghdad dalam peristiwa ini. Ada yang mengatakan delapan ratus ribu, ada yang mengatakan satu juta delapan ratus ribu, dan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai dua jutaan jiwa.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepadaNyalah kita kembali.

"Korban-korban tewas yang berada di jalanan, seakan-akan seperti gundukan tanah yang bertumpuk-tumpuk. Ketika hujan turun, mayat-mayat mereka segera berubah dan bangkai-bangkai mereka mengeluarkan bau busuk ke seluruh penjuru kota. Udara menjadi tercemar dan menimbulkan wabah penyakit yang luar biasa di mana-mana, sehingga menyebar dan berterbangan di udara sampai ke negara Syam. Banyak orang yang meninggal akibat perubahan cuaca dan tercemarnya udara. Semua orang menderita akibat kenaikan harga, wabah penyakit, kematian, pembunuhan, dan penyakit th'aun. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kita kembali.

Setelah mengungkapkan pengkhianatan-pengkhianatan Syiah secara terperinci, saya ingin menyatakan dua hal:

Pertama; Kami hanya dapat mengatakan bahwa kondisi khalifah Abbasiyah pada saat itu sangat jelek, ide dan perencanaannya sangat buruk.

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Kekuasaan Bani Abbasiyah tidak dapat menjangkau semua negara, seperti Bani Umayyah yang mampu menundukkan seluruh wilayah, dan seluruh negara. Beberapa negara lepas dari tangan Bani Abbasiyah, sehingga khalifah hanya menguasai Baghdad dan sebagian wilayah Iraq. Ini disebabkan oleh lemahnya khilafah mereka dan kesibukan mereka pada nafsu syahwat dan mengumpulkan harta sepanjang waktu.

Kedua; Yang sangat mengherankan adalah perilaku menteri Syiah ini, bagaiman dia dapat melakukan semua ini? Padahal Khalifah Abbasiyah yang sunni telah berbaik hati padanya dengan mengangkatnya sebagai menterinya, pada saat di mana apabila orang-orang Syiah berkuasa, mereka tidak akan mungkin memberikan kesempatan kepada orang-orang Ahlu sunnah untuk menempati posisi manapun.

Ini adalah masalah yang selalu terjadi pada mereka sampai sekarang. Mengenai situasi Iran saat ini, Ustadz Nashiruddin Al-Hasyimi menjelaskan bagaimana keadaan Ahlu sunnah di sana. Beliau menjelaskan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh Ahlu sunnah di sana, seperti; membangun masjid di kota-kota besar, mencetak buku-buku mereka, dan berfatwa untuk mereka dengan madzhab mereka sendiri.

Beliau mengatakan, "Orang-orang Ahlu sunnah dilarang bekerja di kantor-kantor pemerintahan; di mana mereka tidak dipekerjakan di sana, walaupun mereka mengantongi gelar Doktor, baik pada posisi-posisi penting maupun posisi-posisi yang tidak penting. Kecuali hanya sekelompok kecil yang tersisa dari masa pemerintahan sebelumnya di kantor-kantor pemerintahan, itu terjadi setelah aksi pembersihan besar-besaran paska revolusi.

Pembahasan Seputar Motif Pengkhianatan Ibnu Al-Alqami
Tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 655 H Ibnu Katsir berkata, "Pada saat itu di Baghdad terjadi fitnah yang hebat antara orang-orang Syiah dengan orang-orang Ahlu sunnah. Dimana Al-Kurkh dan rumah-rumah orang Syiah ditaklukkan, bahkan termasuk rumah kerabat menteri Ibnu Al-Alqami. Inilah yang menjadi salah satu penyebab paling kuat sehingga dia meminta bantuan kepada orang-orang Tatar.

Namun, mungkin ini hanya salah satu dari motifnya, tetapi motif utama orang Syiah yang jahat ini berkhianat adalah dari akidah yang diyakininya.

Pada permulaan buku ini telah kami jelaskan, bahwa mereka tidak memandang kewajiban jihad kecuali dengan kehadiran Al-Mahdi, yaitu imam mereka yang kedua belas. Al-Kulaini penulis kitab Al-Kafi meriwayatkan dari Abu Abdillah Alaihissalam, beliau berkata, "Setiap bendera yang dikibarkan sebelum datangnya (Al-Mandi), maka orang tersebut  adalah thaghut, yang menyembah selain Allah Azza wa Jalla." Riwayat ini juga disebutkan oleh Syaikh mereka, Al-Hur Al-Amili dalam Wasa'il Asy-Syi'ah,

Dalam Shahifah As-Sajadiyah Al-Kamilah disebutkan, "Dari Abu Abdillah Alaihissalam, beliau berkata, 'Tidak keluar dan tidak akan keluar dari kita, Ahlul Bait, sampai datangnya Qa'im kita, seseorang yang menentang kezhaliman atau menegakkan kebenaran melainkan dia akan mengalami penderitaan, dan perbuatannya itu akan menambah kesulitan pada kita dan Syiah kita."

Juru bicara mereka, An-Nuri Ath-Thibrisi meriwayatkan dalam Mustadrak "Dari Abu Ja'far Alaihissalam, beliau berkata, perumpamaan orang yang keluar dari kita Ahlul Bait sebelum datangnya Al-Qa`im Alaihissalam, seperti anak burung yang terbang dan jatuh dari sarangnya, kemudian anak-anak pada mempermainkannya.

Apakah bisa diharapkan mereka mengumumkan jihad melawan orang-orang Tatar atau lainnya, sedangkan mereka menganggap kita sebagai orang-orang kafir, sementara Al-Mahdi mereka belum keluar?